Tengoklah kembali perjalanan Anda saat ini, akan menuju kemana? Apakah ke arah yang lebih baik, atau ke arah yang lebih buruk, atau tetap saja seperti saat ini? Tetapkanlah sebuah putusan dan jalanilah menuju konsekuensinya.
Powered By Blogger

Jumat, 10 Desember 2010

KOMUNIKASI EFEKTIF

Komunikasi konon menjadi istilah yang paling sering diucapkan dan dilakukan oleh setiap orang, dari semua pengetahuan dan ketrampilan yang kita miliki menjadi tak berguna bila tidak ada komunikasi. Dengan komunikasi manusia dapat menyampaikan apa yang di inginkan, dengan komunikasi pula kesalah pahaman dapat terjadi diantara mereka. Komunikasi, adalah proses penyampaian suatu ide/gagasan/pesan oleh seseorang kepada orang lain dengan tujuan untuk memberi tahu atau mengubah sikap, pendapat atau perilaku baik secara lisan maupun tak langsung. Pengertian di atas menunjukkan betapa kegiatan komunikasi penting bagi aktivitas kehidupan manusia. Bayangkan bila dalam suatu hari saja kita tidak berkomunikasi ?. Betapa sunyinya dunia ini. Dengan demikian, kegiatan komunikasi mendominasi setiap aspek kehidupan manusia, di rumah, di kantor, di jalan, dan dalam waktu yang tak terbatas. Jadi ber komunikasi itu mudah ? kalau mudah, mengapa kesalah pahaman sering timbul saat manusia menjalankan aktivitas komunikasi ? Kesalahan informasi mengenai keberadaan pesawat Adam Air, merupakan suatu contoh, bahwa miss communication dapat berakibat fatal bagi sebuah kebenaran dalam informasi.
Komunikasi Efektif dalam aktivitas individu dimaksud agar pesan - pesan maupun cara menyampaikannya mencapai sasaran. Istilah inilah yang sering dipergunakan oleh individu tak kala dalam interaksi antara individu tidak tercapai sesuai tujuan disebabkan komunikasi tidak efektif. Komunikasi efektif adalah komunikasi yang berhasil mencapai sasaran dengan feedback(respon) yang sesuai dengan tujuan individu berkomunikasi. Hal inilah yang disebut dengan kondisi komunikasi yang sukses(berhasil), melalui :
1. Perencanaan dan penyusunan pesan yang dapat menarik perhatian lawan bicara
2. Menggunakan bahasa maupun alat komunikasi yang mudah dipahami kedua pihak
3. Menggunakan timing yang tepat saat berkomunikasi
4. Merencanakan tujuan maupun sasaran yang sesuai dengan kebutuhan lawan bicara.
Komunikasi Efektif pada dasarnya sangat tergantung pada peran komunikator atau orang yang mengawali pembicaraan, dengan demikian seorang komunikator penting memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1. Kesiapan (preparedness)
2. Kesungguhan (seriousness)
3. Ketulusan (sincerity)
4. Kepercayaan (confidence)
5. Ketenangan (poise)
6. Keramahan (friendship)
7. Kesederhanaan (moderation)
Tehnik komunikasi persuasi
Komunikasi Persuasi (Persuasive communication) adalah salah satu tehnik berkomunikasi yang banyak dilakukan oleh kalangan yang bergerak di bidang jasa, pembicara, pengacara, polisi, psikolog, marketing, penyiar dan lain-lain. Tehnik komunikasi ini menjadi populer dipergunakan karena inti dari Komunikasi Persuasi ditujukan untuk mengubah perilaku, keyakinan dan sikap orang lain dengan sukarela tanpa paksaan, dilakukan dengan halus, luwes, mengandung sifat-sifat manusiawi. Selanjutnya, Komunikasi Persuasi akan efektif apabila pesan yang disampaikan sesuai dengan kebutuhan individu, untuk itulah penting bagi komunikator sebelum melakukan komunikasi mengetahui benar-benar apa yang menjadi kebutuhan lawan bicaranya. Abraham Maslow seorang ahli psikologi mendeteksi ada 5(lima) kebutuhan yang dimiliki oleh manusia yaitu :
1. Kebutuhan phisik (Physiological Needs)
2. Kebutuhan akan keamanan (Safety Needs)
3. Kebutuhan kasih sayang (Love Needs)
4. Kebutuhan akan penghargaan (Esteem Needs)
5. Kebutuhan akan hakekat diri (Self Actualization Needs)
Tehnik Dalam Melakukan Kegiatan Komunikasi Persuasi
Setelah mengetahui apa yang menjadi kebutuhan lawan bicara, maka sebaiknya komunikator melakukan hal-hal sebagai berikut :
1. Merencanakan kira-kira apa yang hendak dicapai dalam kegiatan komunikasi tersebut ?
2. Siapakah yang akan diajak berkomunikasi ?
3. Dalam situasi dan kondisi yang bagaimanakah kegiatan dan orang yang akan berkomunikasi berlangsung ?
Setelah melakukan evaluasi terhadap situasi dan kondisi seperti diatas, maka berikut tehnik-tehnik yang dapat dipergunakan dalam kegiatan Komunikasi Persuasi, yaitu :
1. Cognitive Dissonance, Mengemas pesan komunikasi berdasarkan pengamatan maupun kebiasaan yang
seringkali atau umum dilakukan, meskipun hasil tersebut bertentangan dengan hati nurani.
2. Tehnik Pay Off Idea, Ialah usaha persuasi dengan memberikan reward (hadiah) atau penghargaan
3. Empathy, Yaitu menempatkan diri pada kondisi atau posisi lawan bicara.
4. Packing, Penyajian pesan komunikasi yang dilakukan sedemikian sehingga menarik perhatian lawan bicara
5. Red Herring, Tehnik mengelakkan argumentasi yang salah atau tidak dikuasai oleh komunikator
6. Tehnik Asosiasi, Yaitu menyampaikan suatu pesan dengan jalan menempelkan atau menggabungkan objek
yang sedang aktual atau menarik.
Hambatan terhadap berlangsungnya Komunikasi Persuasi
1. Noise
2. Semantic - factor
3. Interest
4. Motivation
5. Prejudice
Beberapa hal diatas merupakan salah satu cara yang perlu dilakukan oleh individu yang terlibat dalam kegiatan komunikasi, pada intinya Komunikasi Efektif dapat terlaksana bukan hanya tanggung jawab komunikator sebagai penyampai pesan, dengan kata lain untuk mengefektifkan kegiatan komunikasi, diperlukan pembicara yang efektif dalam menyampaikan pesan dan pendengar yang efektif dalam menerima pesan.
Di kutip oleh Ir.Sugiono, Fungsional Pranata Humas Muda, dari makalah DR. Dewi K. Soedarsono MS.
Dalam acara Seminar Kehumasan pada tanggal 24 Juli 2007, berlokasi di Korwil Bandung Jl. Sangkuriang Ged. 40 Lt.2, hasil kerjasama Korwil Fortamas LIPI Pusat Jakarta dengan Korwil Fortamas LIPI Bandung

Komunikasi Efektif dalam Tim

Salah satu komponen penting dalam membangun sebuah teamwork yang baik adalah adanya komunikasi yang efektif dalam tim tersebut. Komunikasi dapat memperkuat ataupun memperlemah bahkan menghancurkan sebuah tim. Good communication can build up a team, bad one can break it. Komunikasi yang baik dapat membangun kekuatan sebuah tim, sedangkan komunikasi yang buruk dapat menghancurkannya.

Berikut adalah artikel mengenai komunikasi efektif dalam sebuah tim, yang ditulis oleh Jimmy Sentoso, mahasiswa peserta mata kuliah People Skill II program Magister Management Universitas Bina Nusantara.
Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Tentu kita sudah sering mendengar semboyan tersebut di telinga kita. Semboyan ini merupakan salah satu semboyan dalam perjuangan bangsa kita dalam perang untuk merebut kemerdekaan. Hal ini dapat kita lihat secara nyata dalam contoh sebuah sapu lidi. Batang yang digunakan untuk membuat sapu lidi teramat tipis dan rapuh. Seorang anak berusia lima tahun pun dapat mematahkannya dengan mudah. Tetapi apa yang terjadi apabila kita menyatukan batang lidi yang teramat tipis dan rapuh tersebut menjadi sebuah sapu lidi? Jangankan seorang anak kecil yang berusia lima tahun, orang dewasa yang telah berusia dua puluh tahun pun tidak dapat mematahkannya walau ia menggunakan seluruh tenaganya. Begitu pula yang akan terjadi apabila kita bekerjasama dalam sebuah tim.
Sebenarnya, setiap orang di planet ini terlibat atau melibatkan diri dalam pembangunan tim. Oleh karena itu, kita dirancang untuk berfungsi dalam jalinan dan hubungan saling ketergantungan dengan orang lain. Hal ini tidak terlepas dari sifat manusia yang merupakan makhluk sosial, yang harus berinteraksi dengan sesamanya untuk dapat hidup dengan baik. Sebuah perusahaan merupakan kerjasama dari tim. Sebuah klub sepak bola merupakan hasil kerjasama sebuah tim. Bahkan untuk hal-hal yang bersifat individual pun tetap memerlukan sebuah tim untuk dapat berfungsi secara baik. Sebagai contoh dapat kita lihat pada olahraga perseorangan seperti olah raga tinju, lari, golf maupun catur. Kita tidak dapat berhasil mencapai suatu kesuksesan dalam olah raga tersebut tanpa adanya kerjasama. Seorang atlet tinju, lari, golf, dan olah raga individu lainnya tetap membutuhkan pelatih, manajer, maupun para pendukungnya untuk saling bekerjasama dalam mencapai sukses.
Kapan dan di mana pun orang bersama-sama atau berada dalam kebersamaan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan, itulah sebuah tim. Prioritas utama sebuah tim apapun adalah untuk belajar berfungsi seefektif dan semulus-mulusnya sehingga secara individu dan bersama-sama, anggota tim itu dapat meraih sasaran yang tepat. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat meraih kesuksesan tanpa bekerjasama dengan orang lain.

Kekuatan Kerja Tim
TEAM (Tim) bukanlah sekedar kata, melainkan juga merupakan akronim untuk suatu kebenaran yang dahsyat, yaitu Together Everyone Achieve More. Konsep dari tim ini terbentuk dari kata yang sering kita dengar berulang kali, yaitu sinergi. Kata sinergi ini berasal dari bahasa Yunani sunergos, ”sun” berarti bersama dan ”ergon” berarti bekerja. Sinergi berarti interaksi dari dua individu atau lebih atau kekuatan yang memungkinkan kombinasi tenaga mereka melebihi jumlah tenaga individu mereka.
Kerja tim adalah kemampuan untuk bekerja sama menuju satu visi yang sama, kemampuan mengarahkan pencapaian individu ke arah sasaran organisasi. Itulah rangsangan yang memungkinkan orang biasa mencapai hasil yang luar biasa. Dalam mata kuliah Organizational Behavior yang pernah saya pelajari, terdapat demonstrasi bagaimana kerjasama dapat menghasilkan suatu hal yang luar biasa. Kami disuruh untuk membentuk beberapa tim yang beranggotakan lima orang, di mana kami semua belum memiliki kemampuan untuk menganalisis bidang ini dengan baik. Setiap orang dalam kelompok kami diminta untuk memberikan peringkat terhadap suatu hal berdasarkan urutan dari hal yang kami anggap paling penting. Setelah itu setiap pendapat dari kami digabungkan untuk mendapatkan rata-rata peringkat untuk setiap kelompok. Apa yang terjadi? Kesimpulan rata-rata kelompok kami mendekati jawaban yang telah diberikan. Bahkan apabila hasil dari setiap kelompok disatukan dan diambil rata-ratanya, maka penilaian kami hampir sama dengan penilaian para ahli di bidang tersebut.
Demonstrasi nyata lain mengenai prinsip sinergi dapat kita lihat pula dalam kontes kuda penghela dalam kontes kuda penghela di suatu pekan raya kota. Kuda juara dalam kontes tersebut mampu menghela gerobak seberat 2.250 kilogram. Juara kedua sanggup menarik beban sebesar 2.000 kilogram. Dalam teori, berarti kedua kuda tersebut secara bersama-sama harus mampu menggerakkan maksimum 4.250 kilogram. Untuk uji coba teori tersebut, pemilik kedua kuda memadukan kedua kuda dan membebaninya dengan gerobak. Semua orang yang melihat terperangah. Kedua kuda tersebut mampu menarik beban seberat 6.000 kilogram, atau 1.750 kilogram lebih berat dibanding jumlah upaya yang mampu mereka lakukan sendiri-sendiri. Sinergi dapat dipakai untuk menyatukan tenaga individu, menutup keterbatasan individu, untuk menggandakan upaya individu, supaya sasaran yang lebih banyak dan lebih besar dapat dicapai.

Komunikasi
Ada lima komponen atau unsur penting dalam komunikasi yang harus kita perhatikan. Kelima unsur tersebut adalah: pengirim pesan (sender), pesan yang dikirimkan (message), bagaimana pesan tersebut dikirimkan (communication channel), penerima pesan (receiver), dan umpan balik (feedback). Pesan tersebut disampaikan melalui suatu media komunikasi, sehingga dapat diterima dengan baik oleh si penerima, dan menghasilkan umpan balik yang berguna bagi si pengirim pesan. Yang dimaksud media komunikasi di sini bukan hanya berupa percakapan secara langsung dengan menggunakan suatu bahasa yang dapat dimengerti, melainkan segala hal yang dapat membuat individu saling berinteraksi dan saling mengerti mengenai pesan apa yang akan disampaikan, sehingga tidak terjadi salah penafsiran mengenai isi dari pesan tersebut. Media komunikasi tersebut bisa juga berupa isyarat melalui gerakan tubuh, morse, maupun melalui alat bantu seperti surat, gambar, serta alat bantu visual lainnya.

Komunikasi dalam Tim
Untuk dapat membangun kerjasama dalam sebuah tim, diperlukan komunikasi antaranggotanya agar tujuan bersama dapat tercapai. Pernahakan kita membayangkan apa yang terjadi dalam suatu tim apabilla setiap anggota tim tidak dapat berkomunikasi dengan baik dengan anggota tim lainnya? Seberapa pun hebatnya kemampuan individu dalam suatu tim, mereka tidak akan ada gunanya apabila tidak dapat berkomunikasi antara yang satu dengan lainnya. Mereka hanya akan menjadi sebuah kelompok yang tidak tahu ke mana arah yang akan dituju. Keahlian mereka akan menjadi sia-sia apabila mereka tidak dapat mengkomunikasikannya dengan orang lain. Seperti yang telah dikatakan oleh William Shakespeare ”No man is lord of anything, though in and of him there be much consisting, till he communicate his part to other.”
Contoh nyata yang sering kita lihat adalah pada pertandingan sepak bola. Sering kali pada pertandingan sepak bola, di mana terdapat suatu tim yang bertabur bintang dengan skil individu yang tinggi kalah oleh sebuah tim yang berisikan pemain dengan kemampuan skill individu yang tidak begitu menonjol. Apa yang menyebabkan tim tersebut dapat menang? Komunikasi yang baik dan saling pengertian antarpemain dalam tim tersebutlah yang menyebabkan tim yang diisi oleh pemain yang memiliki skill rata-rata dapat berubah menjadi tim yang hebat dan menakutkan. Hal ini telah diakui oleh pelatih sepak bola manapun di dunia ini. Mereka mengakui bahwa skill individu merupakan hal yang penting, tetapi ada hal yang lebih penting dalam suatu tim sepakbola; yaitu kerjasama tim, kesadaran akan tugasnya masing-masing dan saling pengertian antarpemain tim tersebut.

Hukum Komunikasi Efektif
Prinsip dasar yang harus kita perhatikan dalam berkomunikasi dapat kita rangkum dalam satu kata, yaitu REACH (Respect, Empathy, Audible, Clarity, Humble), yang berarti merengkuh atau meraih.
Hukum pertama dalam berkomunikasi adalah Respect. Respect merupakan sikap hormat dan sikap menghargai terhadap lawan bicara kita. Kita harus memiliki sikap (attitude) menghormati dan menghargai lawan bicara kita karena pada prinsipnya manusia ingin dihargai dan dianggap penting. Jika kita bahkan harus mengkritik seseorang, lakukan dengan penuh respek terhadap harga diri dan kebanggaan orang tersebut. Samuel Johnson mengatakan bahwa ”There will be no RESPECT without TRUST, and there is no trust without INTEGRITY.”
Hukum kedua adalah Empati, yaitu kemampuan kita untuk menempatkan diri kita pada situasi atau kondisi yang dihadapi oleh orang lain. Rasa empati akan memampukan kita untuk dapat menyampaikan pesan (message) dengan cara dan sikap yang akan memudahkan penerima pesan (receiver) menerimanya. Jadi sebelum kita membangun komunikasi atau mengirimkan pesan, kita perlu mengerti dan memahami dengan empati calon penerima pesan kita. Sehingga nantinya pesan kita akan dapat tersampaikan tanpa ada halangan psikologis atau penolakan dari penerima. Prinsip dasar dari hukum kedua ini adalah ”Perlakukan orang lain seperti Anda ingin diperlakukan.” ”Seek first to understand then be understood to build the skills of emphatetic listening that inspires openness and trust.” (Stephen Covey)
Empati bisa juga berarti kemampuan untuk mendengar dan bersikap perseptif atau siap menerima masukan atau pun umpan balik apa pun dengan sikap yang positif. Banyak sekali dari kita yang tidak mau mendengarkan saran, masukan apalagi kritik dari orang lain. Padahal esensi dari komunikasi adalah aliran dua arah. Komunikasi satu arah tidak akan efektif manakala tidak ada umpan balik (feedback) yang merupakan arus balik dari penerima pesan.
Hukum ketiga adalah Audible. Makna dari audible antara lain: dapat didengarkan atau dimengerti dengan baik. Kunci utama untuk dapat menerapkan hukum ini dalam mengirimkan pesan adalah:

a. Buat pesan Anda mudah untuk dimengerti
b. Fokus pada informasi yang penting
c. Gunakan ilustrasi untuk membantu memperjelas isi dari pesan tersebut
e. Taruhlah perhatian pada fasilitas yang ada dan lingkungan di sekitar Anda
f. Antisipasi kemungkinan masalah yang akan muncul
g. Selalu menyiapkan rencana atau pesan cadangan (backup)

Hukum keempat adalah kejelasan dari pesan yang kita sampaikan (Clarity).
Pesan yang ingin disampaikan harus jelas sehingga tidak menimbulkan multi interpretasi atau berbagai penafsiran yang berlainan. Clarity juga sangat tergantung pada kualitas suara kita dan bahasa yang kita gunakan. Penggunaan bahasa yang tidak dimengerti, akan membuat isi dari pesan kita tidak dapat mencapai tujuannya. Seringkali orang menganggap remeh pentingnya Clarity, sehingga tidak menaruh perhatian pada suara (voice) dan kata-kata yang dipilih untuk digunakan. Beberapa cara untuk menyiapkan pesan agar jelas yaitu:

a. Tentukan goal yang jelas.
b. Luangkan waktu untuk mengorganisasikan ide kita
c. Penuhi tuntutan kebutuhan format bahasa yang kita pakai
d. Buat pesan Anda jelas, tepat dan meyakinkan
e. Pesan yang disampaikan harus fleksibel

Hukum kelima dalam komunikasi tim yang efektif adalah sikap rendah hati (Humble)
Sikap ini merupakan unsur yang terkait dengan hukum pertama untuk membangun rasa menghargai orang lain, biasanya didasari oleh sikap rendah hati yang kita miliki. Kerendahan hati juga bisa berarti tidak sombong dan menganggap diri penting ketika kita berbicara. Justru dengan kerendahan hatilah kita dapat menangkap perhatian dan respons yang positif dari si penerima pesan.
Kita telah mengetahui betapa hebatnya fungsi dari suatu tim, di mana sekumpulan orang yang biasa saja dapat menghasilkan suatu output yang luar biasa. Namun tim tersebut akan menjadi tidak efektif apabila kita tidak dapat saling berkomunikasi. Oleh karena itu diharapkan kita dapat menggunakan kelima hukum komunikasi tersebut untuk membantu kita dalam menciptakan suatu tim yang solid

Komunikasi Antar Agama dan Budaya

Pendahuluan
Indonesia adalah negara kepulauan terdiri dari 17.508 pulau, 485 suku bangsa dan 583 bahasa daerah. Kenyataan itu sangat fantastis. Dengan begtu beragamnya suku bangsa, bahasa, dan adat istiadat.Kita tetap dipersatukan oleh satu bahasa, yaitu Bahasa Indpnesia. Sehingga informasi atau pesan kebudayaan dari masing-masing suku bangsa dengan bahasa yang berbeda-beda itu tetap bisa disimak.
Hubungan yang terjadi di antara berbagai suku bangsa tersebut tentu saja melalui suatu proses komunikasi. Jika proses komunikasi ditinjau dari segi komunikasi antarbudaya, maka bukanlah semata-mata terjadi proses tukar menukar barang seperti di pasar, tetapi terjadi suatu proses tukar menukar segi kebudayaan. Hal itu meliputi bahasa, religi, sistem ilmu pengetahuan, sistem ekonomi, sistem teknologi, sistem organisasi sosial dan kesenian.
Faktor Penunjang Komunikasi Antar Agama
Dan Komunikasi Antarbudaya
Menurut Gerhard Malatzke komunikasi antarbudaya adalah proses pertukaran pikiran dan makna antara orang-orang berbeda budaya. Komunikasi antarbudaya pertama kali diperkenalkan oleh antropolog Edward Hall. Bidang ini sebenarnya bukan fenomena baru, komunikasi antarbudaya sudah ada sejak pertama kali orang-orang berbeda budaya saling bertemu dan berinteraksi, meskipun studi yang sistematik mengenai bidang ini baru dilakukan selama 30 tahun terakhir.
Ketika komunikasi terjadi antara orang-orang berbeda suku bangsa, kelompok ras, atau komunitas bahasa, maka komunikasi tersebut disebut komunikasi antarbudaya. Komunikasi antarbudaya pada dasarnya mengkaji bagaimana budaya berpengaruh terhadap aktivitas komunikasi, apa makna pesan verbal dan non verbal menurut budaya bersangkutan, apa yang layak dikomunikasikan, bagaimana cara mengkomunikasikan pesan-pesan tersebut.
Dengan mengetahul ciri dasar budaya dari tiap-tiap suku bangsa akan mengurangi keterkejutan budaya (gegar budaya), memberikan kepada kita wawasan terlebih dahulu dan memudahkan kita untuk berinteraksi dengan suku bangsa lain yang sebelumnya sulit kita lakukan. Dari interaksi ini selanjutnya akan cenderung terjadi relasi.
Sebenarnya keanekaragaman budaya bukanlah sesuatu yang akan hilang pada waktu mendatang yang memungkinkan kita merencanakan strategi berdasarkan asumsi saling memahami. Dari sini
kemudian akan timbul empathy dari diri kita terhadap orang-orang dari suku bangsa lain. Adanya
saling memahami dan pengertian di antara orang-orang berbeda budaya akan mengurangi konflik
yang selama ini sering terjadi. Konflik biasanya terjadi karena berbedanya persepsi mengenai nilai- nilai antarbudaya.
Hal yang keramat bagi satu suku bangsa boleh jadi merupakan hal yang dianggap biasa bagi suku bangsa lainnya. Situasi seperti ini sebenarnya bisa dicari jalan keluarnya, yaitu dengan pemahaman, yang mendalam mengenai budaya lain dan tahu strategi pendekatannya. Agak sulit memang untuk memahami secara detail sebanyak 485 suku bangsa yang tersebar di pulau-pulau yang berbeda dan dibatasi oleh laut yang cukup luas. Tentu saja ini mempengaruhi pesan komunikasi yang hendak di sampaikan.
Tapi kita harus optimis mengenai perbedaan budaya di Indonesia. Karena pada dasarnya. hal itu merupakan salah satu kekayaan dari Negara Republik Indonesia, Dan ini adalah tantangan bagi kita, terutama bagi mereka yang berkecimpung dalam bidang ilmu komunikasi.
A. Definisi Komunikasi Antar Budaya
Jika kita telah mengetahui pengertian dari komunikasi dan budaya makakita akan dapat menyimpulkan bahwa definisi dari komunikasi antar budaya adalah satu komunikasi yang antara sumber sebagai satu faktor utama yang paling penting dan penerimanya yang adalah faktor penunjang dalam terjadinya proses komunikasi berasal dari budaya yang berbeda.
Sangat berbeda pengertian antara Mulyana dengan menurut buku gatra - gatra Komunikasi. Disini dapat dilihat bahwa terdapat dua konsep yang akan sangat mewarnai komunikasi antar budaya itu sendiri yaitu : Konsep kebudayaan dan konsep komunikasi.
Adapun pengertian dari komunikasi antar budaya adalah komunikasi yang bukan saja komunikasi yang ada dalam satu kalangan dengan latar belakang pribadi yang memiliki perbedaan budaya namun juga karena perbedaan etnik dan ras yang telah cukup lama mereka pegang dan akan tetap selamanya mereka pegang, sehingga akan sulit sekali bagi mereka untuk melakukan satu komunikasi.
Karena kesulitan untuk melepas prinsip latar belakang budaya mereka yang bagi mereka sangat bersifat pribadi. Dengan adanya perbedaan antar budaya maka kita perlu memahami bagaimana cara berkomunikasi yang baik dengan orang lain dan hal – hal yang dapat dikomunikasikan untuk lebih mempermudah proses komunikasi. Memang sangat diperlukan bagaimana memahami orang lain dalam berkomunikasi terutama jika lawan bicara kita mempunyai latar belakang budaya yang tidak sama dengan kita, itu justru akan lebih membutuhkan perhatian lebih. Jika kita akan melihat lebih dalam maka menurut buku kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan ada terdapat tiga wujud dalam kebudayaan yaitu: wujud kebudayaan akan memberikan satu gagasan-gagasan atau ide, nilai-nilai, norma-norma yang akan cukup kompleks untuk kita mampu memahaminya. Kita juga memahami bagaimana sebenarnya pola komunikasi dari masyarakat itu sendiri yang dapat dilihat secara menyeluruh dan cukup luas, dalam aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat itu sendiri. Dari kebudayaan itu sendiri akan nampak berbagai benda-benda hasil karya manusia yang dapat dijadikan sebagai wujud budaya yang nyata dapat dilihat secara langsung.
3 ( tiga ) Sasaran komunikasi antar budaya yang selalu dikehendaki dalam proses komunikasi antar budaya, yaitu :
1. Agar kita berhasil melaksanakan tugas-tugas yang berhubungan dengan orang – orang dari latar belakang kebudayaan yang berbeda
2. Agar dapat meningkatkan hubungan antar pribadi dalam suasana antar budaya
3. Agar tercapai penyesuaian antar pribadi.
B. Pengertian, Fungsi, dan Ruang Lingkup
• Menurut DeVito (1997) bentuk-bentuk komunikasi antarbudaya meliputi bentuk-bentuk komunikasi lain, yaitu:
1. Komunikasi antara kelompok agama yang berbeda. Misalnya: antara orang Islam dengan orang Yahudi
2. Komunikasi antara subkultur yang berbeda. Misalnya : antara dokter dengan pengacara, atau antara tunanetra dengan tunarungu
3. Komunikasi antara suatu subkultur dan kultur yang dominan. Misalnya ; antara kaum homoseks dan kaum heteroseks, atau antara kaum manula dan kaum muda.
4. Komunikasi antara jenis kelamin yang berbeda yaitu antara pria dan wanita.
• Menurut Mulyana (2004)
Komunikasi antarbudaya (intercultural communication) adalah proses pertukaran pikiran dan makna antara orang-orang yang berbeda budaya.
Sama halnya dengan komunikasi antaragama yaitu proses komunikasi dengan orang-orang yang berbeda agama.
Ketika komunikasi terjadi antara orang-orang berbeda bangsa, agama, kelompok ras, atau kelompok bahasa, komunikasi itu disebut komunikasi antarbudaya.
Komunikasi antarbudaya pada dasarnya mengkaji bagaimana budaya berpengaruh terhadap aktivitas komunikasi, apa makna pesan verbal dan non verbal menurut budaya-budaya yang bersangkutan, apa yang layak dikomunikasikan, bagaimana cara mengkomunikasikannya, kapan mengkomunikasikannya.
C. Fungsi Komunikasi antarbudaya dan agama
Secara khusus fungsi komunikasi antarbudaya adalah untuk mengurangi ketidakpastian. Karena, ketika kita memasuki wilayah orang lain kita dihadapkan dengan orang-orang yang sedikit banyak berbeda dengan kita dalam berbagai aspek (sosial, budaya, ekonomi, status,dll). Pada waktu itu pula kita dihadapkan dengan ketidakpastian dan ambiguitas dalam komunikasi.
Gundykunstt dan Kim, usaha untuk mengurangi ketidakpastian itu dapat dilakukan melalui tiga tahap seleksi, yaitu :
1. Pra-kontak atau tahap pembentukan kesan melalui simbol verbal maupun nonverbal (apakah komunikan suka berkomunikasi atau menghindari komunikasi)
2. Initial contact and imppresion yakni tanggapan lanjutan atau kesan yang muncul dari kontak awal tersebut, misal : anda bertanya pada diri sendiri Apakah saya seperti dia? Apakah dia mengerti saya?
3. Closure, mulai membuka diri anda sendiri yang semula tertutup melalui atribusi dan pengembangan kepribadian implisit.
Secara umum fungsi komunikasi antarbudaya tidak dapat dipisahkan dari fungsi komunikasi yaitu :
Fungsi Pribadi Fungsi Sosial
• Pengawasan
• Menjembatani
• Sosialisasi
• Menghibur
D. Ruang Lingkup Komunikasi Antaragama dan budaya
• Mempelajari komunikasi antarbudaya dengan pokok bahasan proses komunikasi antarpribadi dan komunikasi antarbudaya serta agama termasuk di dalamnya, komunikasi diantara komunikator dan komunikan yang berbeda kebudayaan, agama, suku bangsa, ras dan etnik.
• Komunikasi lintasbudaya dengan pokok bahasan perbandingan pola-pola komunikasi antarpribadi lintasbudaya
• Komunikasi melalui media diantara komunikator dan komunikan yang berbeda kebudayaan namun menggunakan media seperti komunikasi internasional.
• Mempelajari perbandingan komunikasi massa misalnya membandingkan sistem media massa antarbudaya, dampak media massa, tatanan informasi dunia baru.
Kesimpulan
Komunikasi Antar Agama dan Antar Budaya sangat penting untuk dipelajari dan diperdalam karena di Negara ini yang terdiri dari berbagai macam suku, ras, dan agama rentan sekali terjadi konflik. Apabila salah satu suku tidak memahami apa yang dikatakan oleh suku lain, maka akan terjadi perselisihan, begitu juga dengan perbedaan agama dan ras.
Dengan memahami Komunikasi Antar Agama dan Antar Budaya tentu peristiwa seperti diatas tidak akan terjadi karena kita saling mengerti dan memahami apa yang dimaksud oleh suku, ras, dan agama lain.
Penutup
Alhamdulillah, akhirnya makalah yang berjudul Faktor Penunjang Komunikasi Antar Agama dan Budaya ini telah selesai. Semoga apa yang terkandung dan tertulis dalam makalah ini dapat bermanfaat bagi masyarakat umum, dan kami selaku mahasiswa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Fakultas Dakwah dan Komunikasi Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam Non Reguler khusunya.
Tak lupa saya ucapkan terima kasih kepada Pak Adi Masturi selaku Dosen Mata Kuliah Komunikasi Antar Agama dan Budaya yang telah membimbing sehingga makalah ini dapat terselesaikan dan juga teman – teman yang telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini.
Jakarta, 26 Januari 2009
Daftar Pustaka
1. Ingram, David, Habermas and the Dialectical Reason, New Haven and London: Yale University Press, 1987
2. Koentjaraningrat, Kebudyaaan, Mentalitet dan Pembangunan, Jakarta: Gramedia, 1978.
3. Suparno, Paul, Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan, Yogyakarta: Kanisius, 1998
4. Irwanto, dkk., Psikologi Umum, Jakarta: Gramedia, 1997.
5. Dadan Anugrah, Winny Kresnowiati, Komunikasi Antar Budaya, Jala Permata, Jakarta, 2008