Tengoklah kembali perjalanan Anda saat ini, akan menuju kemana? Apakah ke arah yang lebih baik, atau ke arah yang lebih buruk, atau tetap saja seperti saat ini? Tetapkanlah sebuah putusan dan jalanilah menuju konsekuensinya.
Powered By Blogger

Rabu, 18 Agustus 2010

Success Story- Sang Promotor Autodidak Sejati

Bagaimana jadinya jika seorang buta berjalan tanpa togkat? Berulang kali menabrak, jatuh, atau tertubruk sesuatu. Dan, itu juga barangkali yang dirasakan seorang sosok bernama Adrie Subono ini. Saat kali pertama memutuskan untuk terjun di bisnis pertunjukan musik, tak ada satu pun "tongkat" yang akan memandunya.

"Enggak ada satu pun panduan atau orang yang ngajarin. Karena, waktu itu bisnis ini orang hanya datang dan pergi. Jadi, ya jalanin saja, karena memang saya senang," akunya kepada redaksi majalah LuarBiasa. "Saya hanya ingat ucapan Om Habibie (Adrie adalah keponakan dari mantan Menristek dan Presiden RI ke-3, red). Katanya, ‘Adrie, kalau kamu mau sukses, jadilah kamu ahli di bidang yang kamu geluti!' Itulah kata-kata yang teringat dan saya jadikan pegangan hingga sekarang." Dan, tujuan pasti untuk menjadi "ahli" itulah yang kemudian menjadi "tongkat" Adrie hingga mampu melewati masa-masa pembelajaran kehidupan dan bisnis yang dijalaninya.

Awalnya Sulit

Menilik apa yang dicapainya sekarang, barangkali orang tak membayangkan betapa sulit dan susahnya Adrie mengawali bisnis promotor musik dengan JAVA Musikindo-nya. Seratus lebih artis berkelas dunia sudah berhasil didatangkannya ke Indonesia. Berbagai aliran musik, dari pop, rock, R&B, hingga instrumen modern mampu diolahnya menjadi satu paket hiburan yang membius banyak penggemarnya. Tak heran, jika kemudian orang mengidentikkan dirinya dengan hampir semua pertunjukan musik internasional yang diadakan di Indonesia. Hingga kini, banyak tawaran artis dari luar yang justru datang padanya.

"Kemarin itu ada tawaran manggung artis Pitbull. Saya saja awalnya enggak tau siapa dia.. hahaha. Tapi, karena didesak terus sama agennya, ya sudah. Saya sebarin info kalau saya ada yang nawarin Pitbull. Ternyata, responsnya banyak banget," serunya berkisah.

Bisa dikatakan, Adrie mengawali semua kesuksesannya hanya bermodalkan kenekadan. Adrie yang tak tamat SMA ini belajar jadi promotor dengan modal kesenangannya melihat konser musik saat di luar negeri. "Saya hanya melihat bisnis ini tak bakal ada matinya. Sebab, meski artis silih berganti, tapi mereka semua pasti butuh promotor untuk menggelar pertunjukannya," beber mantan pebisnis bidang perkapalan dan telekomunikasi ini. "Lagipula, ini kan sama saja dengan dagang juga. Kalau dulu jualan kapal, ini jualan tiket...hehehe. Cuma saya sempat dibilang 'sinting' karena ninggalin bisnis yang untungnya jelas-jelas lebih besar."

Belajar Mulai dari Usia 40

Konser perdana yang ditanganinya adalah Saigon Kick. Kala itu, di tahun 1994, melalui PT. JAVA Musikindo yang didirikannya, pelajaran pertama segera dipetiknya. Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Denpasar menjadi saksi sejarah pelajaran pahit pertamanya. "Di Jakarta, itu hanya terisi setengah. Di Bandung, malah lebih kacau lagi. Izin keramaian dari polisi baru turun setelah lagu pertama dimainkan," kisah pria kelahiran 11 Januari 1954 ini. "Tapi, dari situ saya jadi belajar banyak hal. Meski ongkosnya pahit dan sangat menyakitkan, saya nggak kapok. Justru di situ komitmen saya diuji."

Kegagalannya di usia ke-40 tahun itu kemudian membuatnya tertantang. Ia ingin membuktikan, bahwa panggilan jiwanya itu telah mengarahkannya pada jalan yang dicari-carinya selama ini. "Saya pada dasarnya kan memang suka musik. Jadi ya jalanin aja."

Konser berikutnya, ia mendatangkan Supergroove yang dipentaskan di M-Club, kawasan Blok M, Jakarta. Dari sana, ia belajar bahwa pemilihan tempat manggung artis menjadi salah satu komponen yang juga harus diperhatikan untuk mendatangkan massa.

Jadwal pemilihan waktu acara juga sempat menjadi pelajaran pahit yang didapatnya. Kala itu, ia sempat mengadakan acara di musim ulangan umum. Padahal, acara yang digagas tergolong besar, yakni Jakarta Pop Alternative Festivals. Bahkan, tiga artis ternama didatangkan sekaligus. "Sejak saat itu, saya belajar melihat tanggal-tanggal penting agar tidak jeblok lagi sat jualan."

Begitulah, begitu banyak pembelajaran dari kisahnya mendatangkan band-band kelas dunia untuk manggung di Indonesia. Dari mulai menangani penonton yang pingsan, membuat barikade keamanan berlapis, hingga membatasi jumlah penonton untuk meningkatkan kenyamanan adalah berbagai pelajaran berharga yang membuatnya sukses hingga kini.

"Coba dilihat, sekarang setiap kali JAVA Musikindo bikin pertunjukan, kita pakai standar maksimal hanya 80% saja yang boleh diisi penonton. Itu semua agar kenyamanan bisa didapat," cetusnya. "Sekarang, kita pasti juga bikin empat lapis keamanan untuk jaga tiket. Itu untuk antisipasi agar tak terjadi desak-desakan dan kecurangan di tiket. Semua itu didapat karena pengalaman."

Tak hanya itu. Urusan menangani artis pun butuh pembelajaran yang sangat unik dan pelik. "Kadang, ada saja artis yang minta macam-macam dan aneh-aneh. Soal nego harga juga lain lagi. Itu semua bisa saya lakukan karena pengalaman dari belajar menangani satu konser ke konser yang lain," terang Adrie yang kemudian menuliskan pengalamannya dalam buku berjudul WOW ini. "Yang pasti, meski sudah menangani banyak konser, saya masih sering tegang hingga kini."

Belajar dan terus belajar, itulah kunci sukses Adrie Subono hingga mampu menjadi promotor musik paling sukses di Indonesia saat ini.

"Komitmen untuk menjadi ahli seperti yang dikatakan Om Habibie itu terus saya pegang. Karena itu, sesulit apa pun, apalagi saat jenuh dan bosan melanda, komitmen untuk memberikan yang terbaik pada semua pihak, artis, penonton, sponsor, terus saya jadikan pegangan," paparnya. "Satu lagi, selalu bersyukur dengan apa yang saya raih, itu juga menjadi pelajaran penting bagi hidup saya. Dulu saya pernah mencoba menumbuhkan rambut botak ini dengan operasi, tapi batok kepala sudah dioperasi di Jerman, tetap saja tidak tumbuh...hahaha. Di situ saya belajar mensyukuri apa yang saya dapat."

~Kunci Sukses Adrie Subono~

•Komitmen tinggi pada apa yang dikerjakan.
•Selalu optimis apa pun tantangan yang menghadang.
•Terus bersyukur dan jangan cepat putus asa.
•Fokus, fokus, dan fokus, dan jadilah ahli di bidang yang digeluti.
•Segera bangkit dan berdiri lagi ketika menghadapi kegagalan.

"There is only one success -to be able to spend your life in your own way. -Christopher Morley"

Sukses. Ini kata yang sering kita dengar. Sesuatu yang diinginkan setiap orang di dunia ini. Untuk sukses setiap orang berusaha dan siap berkorban apa pun untuk mencapainya.

Lalu, apa itu sukses? Kita sering mendengar orang berkata si A sukses dan si B belum sukses. Kita juga sering mendengar seseorang dikatakan sukses apabila memiliki minimal salah satu dari berikut ini: harta yang banyak, atau nama harum, atau kekuasaan/pengaruh di masyarakat. Menjadi pengusaha kaya raya, penyanyi terkenal, pejabat tinggi adalah sekian contoh-contoh orang yang sukses. Demikianlah masyarakat mendefinisikan sukses, dan kita hidup dalam bayang-bayang menurut definisi masyarakat tersebut.

Lalu banyak di antara kita mulai menggambarkan sukses dengan meniru seperti orang lain. Padahal kita tidak mungkin menjadi orang lain. Apakah benar dengan menjadi orang kaya, terkenal, prestasi tinggi, kekuasaan tinggi sudah menjamin kita menjadi sukses?

Apakah demikian? Mungkin. Tetapi yang jelas, belum pernah saya mendengar ketika seseorang menjelang ajalnya, orang tersebut sibuk mentransfer uangnya ke rekening di akhirat. Atau mem'Fedex'kan barang-barang berharganya ke dunia sana. Atau dapat menawar kepada Sang Pencipta untuk menukar waktu lebih lama di dunia dengan pengaruh yang dimilikinya. Anda belum pernah mendengar juga, bukan.

John C, Maxwell dalam bukunya The Success Journey menyatakan bahwa sukses sejati bukanlah sesuatu yang bisa kita capai atau peroleh. Menurutnya sukses itu sebenarnya suatu perjalanan yang harus kita tempuh sepanjang hidup. Saya sependapat dengannya.

Menurut saya, sukses adalah perjalanan ke dalam. Sukses adalah perjalanan ke dalam diri kita yang paling dalam. Perjalanan ke dalam dimulai dengan menyadari hakekat kita sebagai manusia. Seperti benda dan makhluk hidup lain di alam semesta, semua mengalami perubahan, dari tidak ada menjadi ada, lalu tiada, kembali ke Sang Pencipta. Seperti bunga yang tumbuh dari benih kecil, berkembang dan mekar sesaat mewarnai hidup, lalu layu dan kembali ke tanah, lebih kurang demikian juga hidup kita. Sebuah perjalanan yang singkat.

Yang kita miliki hanya waktu, menghitung detak demi detak jantung. Sepanjang hidupnya seorang manusia dengan masa hidup 70 tahun hanya memiliki waktu 840 bulan, atau 25.200 hari, atau 604.800 jam, atau 36.288.000 menit. Begitu singkat, bukan.

Dengan mengerti hakekat hidup yang fana, kita mulai mencoba mengenali diri kita yang sebenarnya. Segala kelebihan dan kekurangan kita. Segala bakat istimewa yang dianugerahkan Sang Pencipta. Segala impian dari hati kita yang paling dalam. Segala dedikasi yang ingin kita berikan untuk orang-orang kita cintai dan dunia ini.

Yang kita memiliki adalah masa yang singkat di dunia ini. Dengan mengerti hakekat sebagai seorang manusia, menyukuri bakat dan anugerah yang diberikan Sang Pencipta dan mendedikasikan untuk orang lain akan membuat masa yang singkat ini menjadi masa yang bermanfaat bagi kita dan orang lain. Dan membuat detik-detik yang kita lalui menjadi sebuah perjalanan yang penuh makna.

Seorang teman yang saya kenal di MySpace mendeskripsikan sukses sebagai seorang manusia dengan begitu sederhana dan indah. Your purpose is to find your gifts. Your meaning is to give them to others. That is success all about.

Saya ingin menutup artikel ini dengan ucapan Po Bronson: Failure's hard, but success is far more dangerous. If you are successful at the wrong thing, the mix of praise and money and opportunity can lock you in forever.

Jadi, hati-hati saat Anda mendefinisikan dan merencanakan sukses Anda. Jangan sampai kita sukses menurut ukuran orang lain, tetapi kita tidak pernah bahagia menjalaninya. Lalu bagaimana kita mendefinisikan sukses kita?Anda yang memiliki previlise untuk melakukannya. Dan hati Anda yang memiliki jawabannya.

Rabu, 11 Agustus 2010

“innamal ‘usri usro” sesungguhnya di setiap kesulitan itu ada kemudahan

“SABAR”

manusia mana yang tak bisa menyebut satu kata di atas? saya yakin semua manusia bisa, bahkan seorang yang tunawicara pun pandai menyebutnya. tapi dalam hati… hiks ^_^
sabar adalah sebuah kata yang 100% mudah sekali dihafal, diucap, tapi tak semudah itu mempraktikannya. ada orang yang mengatakan bahwa “sabar” identik dengan pasrah. adeeeeem…. ayeeeeem… lalu apakah “menangis” merupakan suatu kesalahan dan ciri-ciri orang yang tidak sabar dalam menyikapi suatu masalah yang menimpanya?

sebelum dijawab, mari kita renungkan firman Allah swt, dalam Q.S. al-Baqarah: 155-157

Bismillahirrohmanirrohim

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”

“yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka lalu mengucapkan: “Innalillahi wa inna ilaihi rooji’un”. Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan hanya kepada-Nyalah kami kembali”

“mereka itulah orang-orang yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari sisi Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”

maha benar Allah dengan segala firman-Nya.

sesungguhnya, yang menjadikan hidup itu berwarna adalah “MASALAH”. dimana masalah itu bisa melemahkan kita atau justru menguatkan kita. Sabar adalah salah satu cara dalam menghadapi masalah yang mendera. lalu cukupkah hanya dengan sabar? lalu tidak mengusahakan sebuah solusi? saya rasa “CUKUP”. bagi saya tak perlu memisahkan antara solusi dan sabar. karena sabar dan solusi merupakan satu kesatauan yang berjalan beriringan. Justru dengan sabar, dengan sendirinya kita akan memikirkan solusi yang tepat untuk masalah yang kita hadapi. Lalu mengusahakannya selesai tanpa kehilangan sabar tadi. “innamal ‘usri usro” sesungguhnya di setiap kesulitan itu ada kemudahan.

pernah saya mengikuti sebuah forum diskusi tentang sabar. Kami mengkaji ayat ke 155-157 dari Q.S. al-Baqarah di atas. Ada dua kata yang menjadi inti diskusi. “SABAR” dan “MUSIBAH”. saya memperoleh bahawa tingkatan sabar seorang manusia itu ada empat:

1. Mengeluh (keluh-kesah),
2. Sabar, tetapi dalam hatinya aduuuuuuuuuuh… sehingga terlampiaskan dengan menangis,
3. ridho terhadap ujian yang diberikan, alias tawakkal,
4. ini merupakan tingkatan tertinggi, yaitu bersyukur atas segalanya.

tafadhol (silakan) kita pilih yang mana?

terkait yang nomor 2, yang jadi pertanyaannya adalah “salahkah kita menangis?”

TIDAK

bahkan Rasulullah pun menanganjurkan kita menangis dalam do’a kita. kalau tak sanggup menangis, berpura-puralah menangis. sedemikian pentingnya menangis di sini, karena tetesan air mata kita yang nantinya akan menghalangi kita ketika kita divonis masuk neraka. Menangis di sini dalam tanda kutip adalah menangis yang mengakui bahwa kita adalah manusia yang memang benar-benar sangt LEMAH tanpa PERTOLONGAN Allah, kita adalah benar-benar HINA tanpa KEMULIAAN Allah, kita benar-benar RAPUH tanpa KEKUATAN Allah. kita benar-benar RUGI tanpa KERIDHOAN Allah, Bukan menangis menyalahi takdir, menangis mencaci nasib.
ah benar-benar HINA tanpa KEMULIAAN Allah, kita benar-benar RAPUH tanpa KEKUATAN Allah. kita benar-benar RUGI tanpa KERIDHOAN Allah, Bukan menangis menyalahi takdir, menangis mencaci nasib.

tentang “MUSIBAH” apa sih musibah itu?
ada banyak pilihan:

MUSIBAH=UJIAN
MUSIBAH=AZAB
MUSIBAH=AMPUNAN (kasih Allah)

musibah itu relatif, tergantung dari sudut pandang (persangkaan) yang tertimpa. ketiga-tiganya benar. tergantung kita memndangnya sebagai ujian, azab, atau pertanda bahwa Allah sayang kepada kita dengan mengampuni dosa kita dengan membalasnya di dunia sehingga kita pada saat kita kembali di sisi-Nya dalam keadaan bersih. “Allah sesuai persangkaan hamba-Nya” dalam hal ini.

semoga kita menjadi semakin bijak dalam menyikapi setiap masalah kita dan mensyukuri tiap kubik Oksigen yang terhirup.